Selasa, 05 Juni 2018

Lirik Lagu Deen Salaam

دِيْنَ السَّلَامْ
(AGAMA PERDAMAIAN)


كَلَّ هَذِى الاَرْضِ مَاتَكْفِيْ مَسَاحَةْ
Kalla hadzil ard mataqfii masahah

لَوْ نَعِيْشِ بِلَاسَمَاحَةْ
lau na’isibila samahah

وَانْ تَعَا يَشْنَا بِحَبْ
Wanta’ayasna bihab

لَوْ تَضِيْقِ الاَرْضِ نَسْكَنْ كَلَّ قَلْبْ
lau tadiqil ardi naskan kalla kolb

اَبْتَحِيَةْ وَبْسَلَامْ
Abtahiyyat wabsalam

اَنْشُرُوْا اَحْلَى الْكَلَامْ زَيْنُوْا الدِّنْيَا حْتِرَامْ
ansyuru ahlal kalam zainuddin yahtirom

اَبْمَحَبَّةْ وَابْتِسَامْ
Abmahabbat wabtisam

ااَنْشُرُوْا بَيْنِ الاَنَامْ هَذَا هُوْا ديْنَ السَّلَامْ
ansyuru bainil anam hadahu din assalam


 ARTINYA :

Seluruh bumi ini akan terasa sempit
Jika hidup tanpa toleransi

Namun jika hidup dengan perasaan cinta
Meski bumi sempit kita kan bahagia

Melalui perilaku mulia dan damai
sebarkanlah ucapan yang manis, hiasilah dunia dengan sikap yang hormat

dengan cinta dan senyuman
sebarkanlah diantara insan, inilah islam Agama Perdamaian

Hijrahku

Tidak mudah untuk dapat menjadi lebih baik, apalagi setelah apa yang telah kita lakukan di saat terdahulu kita. Mungkin orang menganggapku so alim, so suci, atau apapun saat ini. Tapi tanpa mereka ketahui, aku hanyalah manusia yang penuh dengan dosa.
Aku hanya ingin hidup dengan berkah, aku hanya ingin mengharapkan syurga, aku hanya ingin meninggal dengab khusnul khotimah.
Walaupun masa laluku tidak begitu mengenakan, tapi apa salah jika seseorang ingin berubah menjadi lebih baik? Apa salah jika seorang pendosa sepertiku mengharap syurga? Apa tidak boleh seseorang sepertiku ingin menjadi pribadi yang lebih baik?
Semoga hidayah senantiasa berada bersamaku.
Benar kata orang, hijrah itu mudah, yang sulit adalah istiqomahnya.
Ya, benar, aku merasakannya. Di saat orang-orang menghujat perubahanku, aku sering merasakan "ah apa aku kuat menerima semua hujatan ini? Apa aku harus balik lagi aja kayak dulu?" Sering sekali kata itu muncul di kepalaku.
Tapi alhamdulillah, allah selalu menguatkan aku, dan semua juga tak luput dari dorongan teman-temanku.
Semua ini karena Allah sayang sama aku. Allah tidak ingin aku terus melakukan dosa-dosa yang lain. Allah tidak ingin aku terus terjerumus ke dalam kemaksiatan.
Ya walaupun tidak sepenuhnya aku tidak berdosa, pasti ada aja dosa yang aku lakukan yang tidak terasa olehku.
Semoga hijrahku tetap terjaga.

Minggu, 26 Maret 2017

HARAPAN


      Aku ingin terbang tinggi setinggi langit yang biru, tapi tak bisa. Karena aku sadar itu terlalu tinggi. Ketika asa ingin berhenti berharap, saat itu aku merasakan guncangan yang amat dahsyat ketika yang lain telah menggapai apa yang mereka inginkan. Sedangkan aku, masih sangat jauh mencapai langit yang tinggi. Ketika mereka telah mencapai ujung pohon, aku masih di dasar laut yang sangat dalam. Da ketika mereka telah mencapai langit, aku masih di daratan.
      Kini asaku kembali bangkit ketika melihat yang lain mampu untuk menggapai impian mereka. Rasa inginku menggebu-gebu untuk menggapainya. Kekuatanku seperti power ranger yang siap untuk melawan musuh-musuhnya. Ribuan kali aku mencoba untuk mencapai titik langit yang paling tinggi, baru kali ini aku berhasil untuk bangkit sungguhan. Sungguh, kekuatan orang lain yang bangkit mampu memotivasi diri untuk ikut bangkit pula. Kekuatan fikiran positif bahwa kita mampu seperti merekalah yang membuat harapan kita bukan hanya sekedar harapan. Harapan kita harus menjadi impian yang suatu saat bisa kita gapai. Bukan hanya sekedar harapan yang hanya bisa kita harap-harap tanpa usaha.

MENCINTAIMU


      Sesakit inikah mencintaimu? Bagaikan berdiri di atas tangkai mawar yang berduri, walaupun indah tetap saja menyakitkan. Bukannya aku tak mau mengungkapkan, hanya saja diri ini tak mampu mengungkapkannya dan harus seperti apa. Bukan hanya parasmu yang menawan, tetapi hatimupun sungguh dermawan. Tak peduli seberapa buruknya dirimu di masa lalu, yang penting seberapa baiknya dirimu disaat sekarang dan seberapa kuat dirimu melakukan perubahan untuk menjadi lebih baik. Karena sperti itulah mencintai, tak peduli seperti apa masa lalunya. Karena mencintai bersifat maju, bukan mundur.
      Walaupun aku merasakan sakitnya mencintaimu, tetapi entah kenapa tak pernah merasa bosan ataupun lelah untuk mencintaimu. Mungkin aku sungguh menikmatinya, sampai aku merasa lelah karena cinta ini tak kunjung terbalaskan. Kalau difikir-fikir, bagaimana bisa terbalaskan? Sedangkan dia saja tidak mengetahui bahwa ada seorang wanita yang mencintainya tanpa syarat. Sungguh ini terasa seperti kebodohan ataukah ketulusan karena telah mencintai seseorang yang orang itupun tak mengetahui bahwa ada yang mencintainya? Entahlah… aku anggap saja ini seperti ketulusan dalam mencintai seseorang tanpa sayarat.

MERINDU (Surat Untuk Ibu)



      Tak mudah untuk melupakanmu. Begitu banyak kenangan yang telah kau tinggalkan. Entah itu manis atau pahitnya kehidupan yang telah kita lalu bersama. Bagaimana cara kau menuntunku kedalam kehidupan yang lebih baik bahkan cara kau mengajariku saat aku tidak tau apapun. Begitu tulusnya senyumanmu saat kita merasakan kebahagiaan bersama. Ketika aku menangis karena tidak bisa mengerjakan satu hal, dengan sabarnya kau mengajariku sampai aku mengerti. Walaupun aku tau, saat itu kau sangat amat lelah.
      Sampai suatu ketika engkau dipanggil oleh Sang Maha Kuasa, aku belum sempat menceritakan pengalaman hidupku yang amat menyenangkan karena dipenuhi oleh kasih sayangmu dengan cara yang berbeda dari kebanyakan ibu di dunia ini. Betapa beruntungnya aku dilahirkan dari rahim seorang ibu yang sangat hebat sepertimu. Setiap saat aku panjatkan doa kepada Sang Maha Kuasa agar kau ditempatkan di tempat yang paling mulia.
      Kini rindu ini tak tertahan lagi, sampai tak ku sadari saat aku mengetik semua ini air dari mataku mengalir tak terhenti. Mengenang saat-saat indah bersamamu. Bukannya aku tak mau mengenang saat-saat susah, hanya saja aku tak sanggup kalau sampai air mataku mengalir dua kali. Karena aku tau, kaupun pasti tak rela jika anakmu mengenang semua kenangan pahit saat kita bersama. Kau pasti menginginkan kebahagiaan untuk anakmu. Maka dari itu aku hanya mau mengenang masa-masa indah saja. Agar kaupun disana merasa bahagia. Ibu, aku sungguh merindukanmu. Semoga kau tenang di sisi Sang Maha Kuasa.

Minggu, 20 November 2016

Cinta Dalam Diam



Oleh: Maydha Trie Rahmayanti

Senyummu seperti bunga yang merekah di tengah gurun pasir
Tawa candamu seperti merdunya suara ombak di tengah laut
Suaramu seperti suara hujan yang jatuh diantara pepohonan
Tetapi kini semua itu tidak ada lagi
Takdir berkata lain
Jarak dan waktu telah memisahkan kita
Kau yang disana
Semoga Tuhan selalu melindungimu
Biarkan rasa ini terus bertumbuh
Walaupun kita bahkan belum memulainya
Kita tidak perlu saling menunggu
Biarkan waktu yang menjawab
Kita hanya saling mendoakan
Semoga kita baik-baik saja  

Jumat, 04 November 2016

Meramu Realitas, Menuju Formulasi Ideal


Oleh : Teguh Deni Aljabar


Manusia, manusia congkak. Berbaju secuil kekuasaan kerdil – Sangat pandir tentang apa yang diyakininya. Belang meliar – Laksana kera berang. Bermain sulap di gerbang surga. Sehingga membuat malaikat bercucuran air mata.

Pendahuluan

Memperbincangkan masalah pergerakan mahasiswa, membuat kita seolah tak akan pernah berhenti untuk menyimpan harapan besar pada pundaknya. Ia, sebagai kaum terdidik, dimana kesehariannya tak pernah luput dari proses pembelajaran baik itu secara teoritis dalam ruang lingkup kelas, ataupaun dari sudut faktual yang berlangsung ditengah hiruk pikuk kondisi bangsa hari ini. Ia yang sesungguhnya sebagai sosok pembaharu dalam medan juang kehidupan, terkadang mereka lupa bahkan tidak menyadari sekalipun dimana Ia harus memposisikan dirinya ketika dihadapkan dengan realitas yang ada.

Dari sudutan kota kecil, berdiri tegak bangunan yang amat sederhana namun martabatnya amat megah dihadapan massa rakyat. Setiap harinya terlihat berbagai aktifitas akademik didalamnya, ratusan bahkan sampai ribuan makhluk Tuhan yang dinamakan manusia hilir mudik di tempat tersebut. Tempat yang sejatinya menjadi ruang tukar gagasan manusia idealis dengan kekanyaan intelektual didalamnya menjadikan tempat itu teduh pada kondisi yang amat gersang dengan teriknya problematika yang diciptakan. Oleh karena itu tak salah jika kebanyakan orang menyebutnya itu kampus. Dalam hal ini, Kampus yang berada di Jalan Marsinu No. 05 Tegal Kelapa Subang  itu yakni kampus STKIP dan STMIK Subang.

Tidak hanya dilingkupan daerah saja melainkan dalam skala nasional, pun mancanegara, penulis kira gagasannya akan dipertimbangkan jika kualitasnya World class  namun lahir dari tatanan grassroots, kampus dengan basis pendidikan dan manajemen informatika sudah menjadi sebuah kepastian jika mengambil posisi dan berperan sesuai peran dan fungsinya tanpa mengenyampingkan semua unsur garapan yang ada. Oleh karena itu perlu kiranya jika hari ini intellectual culture dihidupakan dan dikembangkan sesuai kebutuhan, sebagai jawaban atas tantangan yang hadir. Disini perlunya peramuan kembali arah gerak mahasiswa, dari  komposisi gerakan yang ada, sehingga pada akhirnya kita mengetahui gerakan yang amat strategis yang dapat diimplementasikan ditengah degradasi persepsi gerakan sesuai dengan kebutuhan yang ada. Diluar itu semua, homogenitas gerakan dan alur pemikiran mahasiswa memberikan kekhasan gerak tersendiri sebagai bagian dari upaya yang konkret memberikan kontribusi untuk bangsa. Disini muncul pertanyaan, Lantas, jika hari ini kita memilah kembali serpihan gerakan yang tengan dibangun dan ada, lalu bagaiman dengan sikap sebagai sebuah upaya gerakan mahasiswa menuju formulasi ideal dengan identitas yang berbeda ditengah kompleksitas permasalah mahasiswa? ini perlunya mengapa dalam sesederhana tulisan ini penulis sampaikan uraian yang dapat memici dan kembalinya memaknai kondisi kampus demi melahirkan sebuah arah gerak yang jelas dan progresif.

Kandungan yang Harus Dicari

Sekilas melirik kebelakang, secara history dominasi mahasiswa STKIP dari kalangan ‘tua’, artinya mahasiswa STKIP sejak awal berdiri kebanyakan mahasiswa karyawan yang dapat dipukul rata orientasinya, hanya menyelesaikan study sebagai prasarat pengugur kebutuhan akan aturan yang ada demi kepentingan individual semata, secara gamblang meraka hadir hanya untuk kebutuhan akademik tanpa mampu mengejawentahkan nilai-nilai Tri Darma Perguruan Tinggi sebagai titik keberangkatan ia menjadi seorang mahasiswa yang dalam konteks ini kau terdidik yang menawarkan solusi akan keberlangsungan negeri. Dari sini kita dapat melihat tidak adanya gerakan mahasiswa pada fase awal berdirinya STKIP-STMIK Subang.

Tampaknya memang belum ada satu karya yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dalam bentuk tulisan yang dapat mewakili perjalanan gerakan mahasiswa STKIP Subang secara menyeluruh, sehingga arah gerak mahasiswa hari ini dapat bercermin pada masa yang telah berlalu. Sekilas penulis sampaikan bahwa kesatuan arah gerak tempo lalu yang dibangun abang-abang kita dulu lahir dari kesadaran pripadi yang bermuara pada kesadaran kolektif untuk memperbaiki kondisi sosial waktu itu. Diterima ataupaun tidak, muara kesadaran kolektif itu bersumber dari berbagai pemikiran individu sesuai konsentrasi pembacaan keilmuannya. Otomatis erat kaitannya antara pengaruh dan kepentingan eksternal dapat hadir ditengah kondisi internal STKIP dengan gagasan gagasan yang konstruktif. Hasil beberapa kali wawanara penulis dengan abang-bang kita bahwa pengaruh positif Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cukup mewarnai keberlangsungan gerakan pada fase awal pembangunan gerakan dengan kolaborasi kekuatan internal yang ada pada waktu itu. Alhasil kondisi hari ini sebenarnya merupakan buah rekayasa sosial para pemikir dan penggerak pada fase itu, oleh karenanya kondisi sosial dan keadaan hari ini harus mampu menyiapkan rekayasan sosial yang akan datang sebagai keberhasilan dari proses gerakan hari ini. Hemat penulis, inilah tahap dimana arah gerak mahasiswa STKIP dimasa yang akan datang sudah dipersiapkan melalui kualitas Sumber Daya Organisasi yang mampu menjawab kebutuhan masa yang akan datang.

Menilik kondisi gerakan dan melahirkan Formulasi

Komposisi gerakan hari ini terbangun dari berbagai pemikiran mahasiswa yang ada. Analisa kasar penulis, bahwa lajur gerak mahasiswa STKIP tetap ada pada dua domain gerakan. Yang pertama, pola kaderisasi internal yang harus diakui sampai saat ini belum menemukan konten yang real untuk diimplementasian dalam jenjang-jenjang kaderisasi, yang dalam hal ini Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Kedua, pola kaderisasi eksternal. Pola inilah yang sebenarnya sudah harus berbicara ditatanan kualitas mahasiswa bukan hanya terfokus ditatanan kuantitas demi kungkungan kepentingan yang pendek. Dari dua pola inilah kita dapat melihat kondisi gerakan mahasiswa STKIP secara nyata. Bahkan kita dapat membedakan mahasiswa dari berbagai himpunan organisasi yang membangun gerakan STKIP. Terlepas dari organisasi internal dan organisasi eksternal yang masip melakukan kaderisasi, adapula yang lahir dari pemikiran berbagai komunitas  yang hadir di tengan sosio-politik STKIP dewasa ini. Yang secara substansi, kesemuanya akan bermuara demi kepentingan kampus STKIP dan mempertahankan eksistensi gerakan mahasiswa STKIP secara universal.

Jikalau penulis boleh menguraikan secara penuh konsidi obyektif mahasiswa hari ini baik itu dari pola pemikiran ataupun gerakannya, kiranya yang perlu dipersiapkan diawal yakni data primer demi esensi tulisan yang baik dan ilmiah, akan tetapi sebagai pengantar penulis menyampaikan bahwa pola gerakan mahasiswa hari ini terpetak pada pola internal dan eksternal. Namun pada sudut yang berbeda, baik itu pola internal ataupaun eksternal kesemuanya haruslah berupaya memahsiswakan mahasiswa. Secara mendasar, mahasisw STKIP haruslah sadar titik bidak penghambat gerakan hari ini, bukan pada segi kepentingan dangkal yang mengedepankan pola taktis untuk menanampak paham ataupaun nilai-nilai gerakan. Musuh mereka bukan pola kaderisasi, melainkan pada tatan kehidupan mahasiswa yang tetap pada titik apatis, hedonis bahkan pragmatis sekalipun. Formulasi ideal hari inilah yang harus hadir menyelesaikan tugas tersebut, yang kesemuanya ada pada posisi tanggungjawab intelektualnya.

Yang pada akhirnya semua gerakan akan terelaborasi pada gerakan politik nilai untuk menyelaraskan pola dan perbedaan yang ada, sehingga ini melahirkan warna khas STKIP yang terintegrasi dari berbagai lajur pemikiran dan gerakan yang ada. Terlepas dari apa metodologi yang tepat untuk kaderisasi lebih dari itu perlu kiranya penulis sodorkan alternatif yang saat ini dibutuhkan oleh STKIP secara umum ataupun untuk pola gerakan mahasiswa STKIP secara lebih khusus, yakni perlula satu falsafah gerak untuk mejawab tantangan dan tuntutan dari konsisi sosal dan politik STKIP yang bermuara pada satu harapan adanya perubahan berangsur kearah yang lebih baik. Makan diakhir, problematika apapun yang dihadapai baik itu oleh istitusi organisasi ataupaun bangsa hai ini dapat diuraikan dan kaum terdidik secara nyata memberikan sumbangsih perbaikan bangsa kedepan. Oleh karenanya silahkan sinergiskan semua gerakan demi harapan yang besar, ditangan pelaku hari inilah eksistensi gerak STKIP ditentukan.

Penulis merupakan Aktifis Hima Persis - Alumni STKIP – Founder Ngampar Emperan