Sesakit inikah mencintaimu? Bagaikan berdiri di atas tangkai mawar yang berduri, walaupun indah tetap saja menyakitkan. Bukannya aku tak mau mengungkapkan, hanya saja diri ini tak mampu mengungkapkannya dan harus seperti apa. Bukan hanya parasmu yang menawan, tetapi hatimupun sungguh dermawan. Tak peduli seberapa buruknya dirimu di masa lalu, yang penting seberapa baiknya dirimu disaat sekarang dan seberapa kuat dirimu melakukan perubahan untuk menjadi lebih baik. Karena sperti itulah mencintai, tak peduli seperti apa masa lalunya. Karena mencintai bersifat maju, bukan mundur.
Walaupun aku merasakan sakitnya
mencintaimu, tetapi entah kenapa tak pernah merasa bosan ataupun lelah untuk
mencintaimu. Mungkin aku sungguh menikmatinya, sampai aku merasa lelah karena
cinta ini tak kunjung terbalaskan. Kalau difikir-fikir, bagaimana bisa
terbalaskan? Sedangkan dia saja tidak mengetahui bahwa ada seorang wanita yang
mencintainya tanpa syarat. Sungguh ini terasa seperti kebodohan ataukah ketulusan
karena telah mencintai seseorang yang orang itupun tak mengetahui bahwa ada
yang mencintainya? Entahlah… aku anggap saja ini seperti ketulusan dalam
mencintai seseorang tanpa sayarat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar