Minggu, 26 Maret 2017

HARAPAN


      Aku ingin terbang tinggi setinggi langit yang biru, tapi tak bisa. Karena aku sadar itu terlalu tinggi. Ketika asa ingin berhenti berharap, saat itu aku merasakan guncangan yang amat dahsyat ketika yang lain telah menggapai apa yang mereka inginkan. Sedangkan aku, masih sangat jauh mencapai langit yang tinggi. Ketika mereka telah mencapai ujung pohon, aku masih di dasar laut yang sangat dalam. Da ketika mereka telah mencapai langit, aku masih di daratan.
      Kini asaku kembali bangkit ketika melihat yang lain mampu untuk menggapai impian mereka. Rasa inginku menggebu-gebu untuk menggapainya. Kekuatanku seperti power ranger yang siap untuk melawan musuh-musuhnya. Ribuan kali aku mencoba untuk mencapai titik langit yang paling tinggi, baru kali ini aku berhasil untuk bangkit sungguhan. Sungguh, kekuatan orang lain yang bangkit mampu memotivasi diri untuk ikut bangkit pula. Kekuatan fikiran positif bahwa kita mampu seperti merekalah yang membuat harapan kita bukan hanya sekedar harapan. Harapan kita harus menjadi impian yang suatu saat bisa kita gapai. Bukan hanya sekedar harapan yang hanya bisa kita harap-harap tanpa usaha.

MENCINTAIMU


      Sesakit inikah mencintaimu? Bagaikan berdiri di atas tangkai mawar yang berduri, walaupun indah tetap saja menyakitkan. Bukannya aku tak mau mengungkapkan, hanya saja diri ini tak mampu mengungkapkannya dan harus seperti apa. Bukan hanya parasmu yang menawan, tetapi hatimupun sungguh dermawan. Tak peduli seberapa buruknya dirimu di masa lalu, yang penting seberapa baiknya dirimu disaat sekarang dan seberapa kuat dirimu melakukan perubahan untuk menjadi lebih baik. Karena sperti itulah mencintai, tak peduli seperti apa masa lalunya. Karena mencintai bersifat maju, bukan mundur.
      Walaupun aku merasakan sakitnya mencintaimu, tetapi entah kenapa tak pernah merasa bosan ataupun lelah untuk mencintaimu. Mungkin aku sungguh menikmatinya, sampai aku merasa lelah karena cinta ini tak kunjung terbalaskan. Kalau difikir-fikir, bagaimana bisa terbalaskan? Sedangkan dia saja tidak mengetahui bahwa ada seorang wanita yang mencintainya tanpa syarat. Sungguh ini terasa seperti kebodohan ataukah ketulusan karena telah mencintai seseorang yang orang itupun tak mengetahui bahwa ada yang mencintainya? Entahlah… aku anggap saja ini seperti ketulusan dalam mencintai seseorang tanpa sayarat.

MERINDU (Surat Untuk Ibu)



      Tak mudah untuk melupakanmu. Begitu banyak kenangan yang telah kau tinggalkan. Entah itu manis atau pahitnya kehidupan yang telah kita lalu bersama. Bagaimana cara kau menuntunku kedalam kehidupan yang lebih baik bahkan cara kau mengajariku saat aku tidak tau apapun. Begitu tulusnya senyumanmu saat kita merasakan kebahagiaan bersama. Ketika aku menangis karena tidak bisa mengerjakan satu hal, dengan sabarnya kau mengajariku sampai aku mengerti. Walaupun aku tau, saat itu kau sangat amat lelah.
      Sampai suatu ketika engkau dipanggil oleh Sang Maha Kuasa, aku belum sempat menceritakan pengalaman hidupku yang amat menyenangkan karena dipenuhi oleh kasih sayangmu dengan cara yang berbeda dari kebanyakan ibu di dunia ini. Betapa beruntungnya aku dilahirkan dari rahim seorang ibu yang sangat hebat sepertimu. Setiap saat aku panjatkan doa kepada Sang Maha Kuasa agar kau ditempatkan di tempat yang paling mulia.
      Kini rindu ini tak tertahan lagi, sampai tak ku sadari saat aku mengetik semua ini air dari mataku mengalir tak terhenti. Mengenang saat-saat indah bersamamu. Bukannya aku tak mau mengenang saat-saat susah, hanya saja aku tak sanggup kalau sampai air mataku mengalir dua kali. Karena aku tau, kaupun pasti tak rela jika anakmu mengenang semua kenangan pahit saat kita bersama. Kau pasti menginginkan kebahagiaan untuk anakmu. Maka dari itu aku hanya mau mengenang masa-masa indah saja. Agar kaupun disana merasa bahagia. Ibu, aku sungguh merindukanmu. Semoga kau tenang di sisi Sang Maha Kuasa.