Minggu, 30 Oktober 2016
Sayang, Engkau Hanya Diperingati
Oleh : Teguh Deni Aljabar1
Sepanjang perjalanan sejarah bangsa, perubahan senantiasa digulirkan oleh para pemuda, tak ada perubahan dalam semua lini kehidupan yang tak melibatkan pemuda, dalam pundaknya harapan pembaharuan dititipkan, karena disetiap ototnya tersimpan semangat militansi pergerakan, dan pada sendinyalah keberpihakan untuk rakyat terpatri. Terlihat jelas istilah pemuda mengalamai spesialisasi dengan sebutan mahasiswa, sosok yang dipandang memiliki kapasistas intelektual tinggi, sosok yang terdidik tidak hanya dalam ruang kelas, melainkan dengan menjalankan peran dan fungsinya sebagai bentuk tanggung jawab ditengah masyarakat dengan berbagai ragam bentuk tirani modern. Semua anggapan untuknya tak pernah keliru, karena ada semangat ‘muda’ dalam semua sikapnya. Namun tidak hanya itu, dengan kapasistas intelektual maka gerakan mahasiswa haruslah terlepas dari berbagai intrik politik, yang hanya mengedepankan kepentingan kedudukan atau bahkan hanya menggugurkan hasrat golongan sesaat. Dan mereka harus memposisikan diri sebagai gerakan yang beraksi diluar parlemen atau dikenal dengan gerakan ekstra parlemen atau oposisi permanen pemerintah. Lantas apakah mahasiswa hari ini masih sadar akan peran dan fungsinya? Lalu bagaimana dengan perubahan yang tertoreh dihelaian sejarah, apakah hanya akan jadi cerita pengantar tidur mahasiswa hari ini? khawatir itu episode terakhir dari cerita perubahan yang ada ditangan kepalan tangan seorang mahasiswa dengan daya intelektual yang dimilikinya. Seuntai harapan masih disisihkan dan tetap dititipkan kepada pundak mahasiswa untuk secuil perubahan bangsa yang lebih baik.
Kondisi Objektif Gerakana Mahasiswa
Bukan tanpa sebab jika hari ini gerakan mahasiswa dipandang stagnan, bahkan dianggap tak punya arah yang jelas bahkan banyak yang menyudutkan orientasinya gamang, oleh karena itu hari ini perlu upaya kuratif dalam rangka menyadarkan kembali gerakan mahasiswa secara menyeluruh karena mahasiswa hari ini merupakan laskar indonesia muda yang akan melanjutkan perjuangan bangsa indonesia, bukan lagi untuk mengantarkan pada gerbang kemerdekaan rakyat indonesia, melainkan untuk sampai pada tatanan kehidupan merdeka secara menyeluruh dalam aspek apapun.
Permasalahan gerakan mahasiswa yang dipandang akut tetap ada didua sudut Kondisi yang nyata. Pertama, kondisi internal Gerakan mahasiswa hari ini lemah pada posisi basis material gerakannya. Itu artinya gerakan yang hari ini berlangsung mereka disibukan dengan pengguguran program kerja seremonial, tanpa menggali lebih dalam apa substansi yang secara gambalng dibutuhkan dalam konteks hari ini. Disamping itu pula gerakan mahasiswa hari ini seakan melupakan falsafah gerakan mereka, atau bahkan mereka tak punya orientasi falsafah yang konkret. Disamping itu pula sistem kaderisasi yang mendasar pada kuantitas bukan pada kualitas kader itu sendiri. Yang pada akhirnya mereka terprosok pada lubang Event Organizer. Kedua, dalam kondisi Eksternal Gerakan mahasiswa hari ini memposisikan dirinya yang abu-abu, yang kemudian susah memainkan peran pada tatanan teknis dilapangan arus ekstrnal. Terlebih mereka tak mampu menginternalisasi nilai-nilai idiologi gerakan mereka, sampai pada satu titik dimana ada pelumpuhan idiologi gerakan itu sendiri. Bahkan tidak berbicara bagaimana membangun conection centre sebagai alternatif gerakan dari petakan idiologi yang ada. lebih parah lagi jika yang diposisikan sebagai tirani kehidupan itu justru malahan dari kalangan mahasiswa itu sendiri bukan elite yang memiliki birahi kekuasaan semata. Sekilas teringat bahwa Karl Mark menpolak pandangan bahwa negara merupakan kesepakatan dari seluruh masyarakat, IA menyuguhkan formulasi tentang masyarakat kapitalis sebagai suatu masyarakat kelas,
yang didominasi oleh borjuis, karenanya negara merupakan ekspresi politik dari kelas dominan. Diperkaya lagi oleh Freindrich Engel dalam “the origin of the family, private, and the state”, disampaikan bahwa hubungan antara kondidi materian masyarakat, struktur sosialnya, dan negara. Disana terlihat kontrol perjuangan sosial antara kepentingan ekonomi yang berbeda, dan dipegang oleh kelas dominan. “bahwa negaa kapitalis adalah sebuah kebutuhan untuk menanggapi dan menengahi konflik kelas dan menjaga tatanan dan tatanan itu memproduksi dominasi ekonomi borjuis”. Maka diakhir sangatlah jelas negara lebih menjaga kepentingan kelas dominan dan bahkan dijadikan alat untuk menghisap dan menindas kelas tertindas. Dapat disimpulkan secara singkat dimana posisi gerakan mahasiswa hari ini harusberada menjaga nilainilai idealismenya ditatanan eksternal yang penuh tantangan.
Peringatan ataukah Proyeksi?
Hampir semua tau bahwa tanggal 28 Oktober merupakan hari yang bersejarah, yakni hari sumpah pemuda, hari yang penuh makna jikalau kita mampu memaknainya. Akan tetapi sebelum jauh pembahasan terkait hari sumpah pemuda, muncul satu pertanyaan yang sederhana, tepatkah kita untuk memperingati hari tersebut? Apakah substansi dari sumpah pemuda hanya untuk diperingati saja? Lalu apa korelasinya dengan tanggung jawab seorang mahasiswa, jika cukup memperingati saja? Deretan pertanyaan yang perlu diurai sehingga pada akhirnya kita akan menemukan jawabannya, walau berbeda perspektif. Secara umum memang tidak ada salahnya kita hanya untuk memperingati hari sumpah pemuda, kiranya disina ada ketimpangan berpikir dan bertindak jika kaum terdidik memposisikan dirinya sebagai aktor ‘peringat’ hari sumpah pemuda tanpa mengejawentahkan nilai perjuangan sumpah pemuda yang pernah dilantuntan dulu. Kita percaya bahwa untuk sampai pada titik sumpah pemuda pada tahun 1928 itu melawati perjalanan panjang dan menyisakan cerita tersendiri yang mencoba mnyelami buah pikir baik tokoh penggerknya atau tokoh pergerakan hari ini. Sehingga haruslah muncur kesadaran baru untuk melakukan gerak perubahan sesuai konten dan konteks hari ini.
Sebagai pengantar penulis teringat konsep proyeksi untuk melukis bangun ruang pada bidang datar. proyeksi merupakan cara untuk melukis suatu bangun datar atau bangun ruang pada bidang datar dengan cara menjatuhkan setiap titik pada bangun atau bentuk kebidang proyeksi tersebut. Implementasinya jika diketahuai sebuah kubus ABCD.EFGH dengan rusuk 8 cm, panjang proyeksi DE pada BDHF adalah? Maka, Alternatif jawabanya panjang proyeksi DE pada BDHF yakni kita ketahui DH = 8 ; D’H = ½ FH = ½ . 8 = 4 maka DD’ = = = = 4 cm.
Memang tak ada keterkaitan jelas antara konsep proyeksi bangun ruang dengan hari sumpah pemuda, tapi jika konsep sumpah pemuda hari ini hanya disampaikan melalui celotehan lisan atau sekedar meme dimedia sosial, penulis kira bangsa kita hanya akan jadi objek jajahan versi modern tanpa batas waktu, disini perlunya revitalisasi nilai-nilai sumpah pemuda sebagai cerminan gerakna mahasiswa hari ini. Disini sudah sepatutunya kita menyadair bahwa tanggung jawab intelektual tidak hanya dalam konteks akademik, melainkan tanggung jawab untuk ikut andil menyelesaikan problematika bangsa yang muncul baik dalam bidang politik, sosial, budaya, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Terakhir, semoga hari ni tanggal 28 oktober 2016 kita mampu memproyeksikan sebuah makna perjalanan sejarah sumpah pemuda dan mampu menginisiasi formula gerakan mahasiswa yang holistik, pergerakan holistik yang dimaksud adalah gerakan mahasiswa yang berbasis ideologi perjuangan untuk kepentungan umat. Formula pergerakan tersebut dilakukan dengan mencerminkan kualitas kader gerakan dalam aspek intelektual dan sosial.
Cicadas, 28 Oktober 2016
Serambi masjid Al Assyfa 11:35 WIB
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar